Bagian Awal Dari Bintang Paling Terang

Bintang itu masih di sana. Pergi meninggalkan aku yang masih menyimpan sebuah tanya. Aku ikuti jejaknya yang basah oleh airmata yang tak mampu ia bendung. Aku di sana dan ia tidak peduli. Di sana hanya ada kami berdua. Bertiga dengan redupnya. Ia berbalik dan memintaku pergi. Airmatanya membeku menjadi butiran es yang bercahaya lalu hilang.
Kami berbicara dengan bahasa dan cara yang tak dapat kami mengerti. Dari redupnya yang mati dan hidup lagi aku mengerti kesedihan yang musti dirasakan olehnya yang terlalu rapuh. Dari gelapnya yang makin jelas ia tak bisa menceritakan sedihnya. Dari senyuman yang tak tampak. Ia melemah.
Ia melayang mengambang. Pura-pura tegar tapi tak pernah benar-benar bisa. Ia melihatku tapi tak tahu aku di sana. Ia berkedip lalu mati. Aku menggenggamnya dan ia bersinar redup walau sedikit.
Akhirnya kami saling sapa dan saling bercerita, ia ceritakan tentang perihnya. Air matanya menetes sekali lagi dan ku seka dengan telunjukku. Kubiarkan ia terbaring di pangkuan ku, kudekap dan kubiarkan ia merasakan detak jantung ku. Kukisahkan banyak sekali kisah. Tentang sungai, tentang banyak hal. Kuceritakan tentang mimpiku mengarungi pelangi dan semesta. Mimpiku bernyanyi di tepian cincin saturnus. Mimpiku ke tempat yang lebih indah dari surga. Lalu ia bersinar terang sekali memenuhi pandanganku. Baru aku tahu ia bernama Arial yang brarti mimpi.

1 comment:

  1. hem..... puisinya bagus banget,,, palagi ada kata 'bintang' i love it so much,, tapi aku paling gak bisa memahami puisi,,

    kemaren ada tugas baca puisi di depan kelas,, dan aku dapet nilai paling kecil,,,

    jadi maksud puisi itu apa ya...?

    ReplyDelete