Terang Bulan Keju Bag 2: Popi

Bagi sebagian orang yang lain, hujan hari itu adalah hujan yang biasa

"Nama kamu siapa?", tanyaku pada perempuan itu.
Dia tidak langsung menjawab. Dipandanginya mataku lalu tersenyum.
"Popi. Namaku Popi", suaranya lembut sekali.

Meskipun tentu, percakapan itu hanya terjadi cuma dalam khayalanku. Pada kenyataannya, kami masih masing-masing sibuk dengan tidak memulai pembicaraan satu sama lain.

Dia masih berdiri di sana. Diam dia. Menengadah ke langit menebak kapan hujan hari itu akan berhenti. Sesekali memainkan tetesan hujan yang jatuh dari atap halte yang tidak terlalu besar itu.

Aku juga masih berdiri di sana. Menengadah ke langit menebak kenapa hujan mempertemukan kami hari itu. Sesekali memainkan tetesan hujan yang jatuh dari atap halte yang tidak terlalu besar itu.

Berharap hujan jangan berhenti dulu.
***

Terang Bulan Keju (Bag 1)

Beberapa hal pagi itu terjadi tanpa perlu kita tanya kenapa. Kenapa angin berhembus dari arah tenggara, kenapa embun jatuh dari pucuk rumput membasahi tanah, dan kenapa pagi itu aku ketemu dia lalu jatuh cinta - begitu saja.

Seandainya tadi pagi sikat gigiku tidak terjatuh ke lantai kamar mandi, aku tidak perlu jalan ke kios dekat rumah untuk untuk membeli sikat gigi yang baru. Menjadikan aku terlambat mandi, menjadikan aku terlambat berangkat ke kampus.

Seandainya tadi pagi aku tidak terlambat ke kampus, aku tidak akan kena macet di jalan. Menjadikan aku memutar mencari jalan alternatif agar lebih cepat sampai.

Seandainya tadi aku tidak usah melewati jalan kecil yang penuh batu-batuan kecil itu, ban motorku tidak usah bocor dan aku tidak usah mencari bengkel tambal ban.

Seandainya tadi aku tidak perlu menunggu ban motorku ditambal, aku tidak akan kena hujan yang datang tanpa diundang. Menjadikan aku memutuskan berteduh di halte kampus.

Seandainya tadi aku tidak perlu berteduh, atau aku tidak perlu menambal ban motorku, atau aku tidak perlu mencari jalan alternatif, atau aku tidak perlu terjebak macet, aku tidak akan bertemu perempuan berambut sebahu yang juga singgah berteduh di situ.

Seandainya tadi pagi sikat gigiku tidak terjatuh ke lantai, hari ini aku tidak perlu jatuh cinta.
*** 
Bersambung. Mudah-mudahan.

Aku, Kau, dan Gerbong Kereta Api

Kamu duduklah denganku, di satu gerbong yang sempit
di dalamnya kita saling bercerita tentang tujuan-tujuan, atau lebih jauh
tentang pemberhentian

Kamu duduklah bersamaku di dekat jendela
di dekatnya kita melihat banyak tempat
pindah dalam sekejap

Kamu duduklah di sampingku
jika mengantuk tersenyumlah lalu sandarkan kepalamu
di pundakku
yang katamu, tempat paling lapang untuk merebahkan kenangan-kenangan

Kamu duduklah denganku
jika lelah diamlah sejenak kita
biar diisi panjang perjalanan bunyi besi dari kaki kereta

Atau duduklah kamu di depanku, atau di belakangku

Yang penting jangan di gerbong yang berbeda
tahu kita, perjalanan panjang dengan satu tujuan
belum tentu ada pertemuan,
apalagi salah satu kita telah turun duluan

(Cerpen) Doni Playboy Angkutan Kota

Sejak masih SMA, Doni dijuluki playboy angkot. Playboy angkutan kota. Meskipun dihadiahi ayahnya sebuah sepeda motor keluaran terbaru, Doni tetap kekeuh naik angkot ke sekolah. Katanya lebih gampang dan hemat bahan bakar, mengurangi pemanasan global katanya. Padahal kita semua tahu, Doni naik angkot karena menurut statistik yang Doni kumpulkan, hampir semua cewek cantik akan menaiki angkot dan ada kurang lebih 43% kemungkinan bertemu dengan salah satu cewek cantik itu - di dalam angkot. Kemungkinan itu akan bertambah besar, jika dia dua kali naik angkot dalam sehari. Pergi - lalu pulang.

Memasuki masa kuliah, Doni sengaja mencari kamar kontrakan yang tidak begitu dekat dengan kampus. Tujuannya apa lagi kalau bukan biar bisa naik angkot? Mengapa angkot? Doni punya alasan yang masuk akal: gampang membuka pembicaraan. Cukup dengan, "Halo, turun di mana?". Gampang kan? Doni pernah mencoba mencari cewek cantik di WC mall, tapi bingung sendiri untuk membuka pembicaraan. Suatu kali ia tanya ke cewek yang ia temui di depan WC mall. Doni bilang, "Sering ke sini?". Si cewek memandang Doni kebingungan, "Nggak juga sih, cuma kalau kebelet". Lalu Doni pulang dengan malu, juga dengan angkot. Di depannya duduk seorang cantik. "Turun di mana?". Itu Doni yang ngomong. "Di Blok M, dekat lapangan", sekarang giliran si cantik yang ngomong. "Oh blok M? Kenal Kang Harijo ga?". Tentu saja Harijo itu cuma nama karangan Doni. Begitulah, Doni playboy angkot. 16 orang mantan dan 1 orang pacarnya yang sekarang semua ketemu di angkot. Beberapa di antaranya ketemu di bus kota.

Doni playboy angkot. Cowok yang romantis dan oportunis. Katanya, apa yang lebih romantis daripada bertemu di perjalanan, ibaratnya menyatukan tujuan. Cih, jijik tapi boleh juga. Doni, Selalu dengan jurus yang sama dan selalu berhasil. Hanya satu kali triknya gagal: tadi pagi. Yaitu di perjalanan dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar menuju Bandara Djuanda Surabaya.