Datanglah di Senja, Perempuanku.

Ingin kupamerkan senyummu pada senja. Biar senja tahu siapa yang lebih indah. Biar senja jadi cemburu.
Datanglah di senja, Perempuanku.

Kesibukanku Sekarang

Mengumpulkan pecahan-pecahan alasan kecil biar bisa tetap suka padamu.

Gua Nggak Suka Nelpon (atau ditelpon) sama Lu

Lu mungkin marah waktu baca ini. Iya, gua malas semalas-malasnya kalau harus dengar suara cempreng Lu di telpon. Gua gak suka. Gua cuman gak suka.
Gua nggak suka denger cerita Lu. Gua nggak suka denger curhatan lu. Gua nggak suka hampir setiap kata yang Lu kasih ke gua.
Gua juga nggak suka denger tawa Lu lewat Nokia 6030 Gua, karena gua cuman bisa bayangin muka Lu yang lagi senyum tanpa bisa ngeliat sepotong senyum Lu yang mustinya jadi sepotong senyuman yang selalu gua suka.
Gua juga nggak suka denger Lu nangis di telpon, sayang gua nggak bisa ngelap air mata Lu yang harusnya bisa Gua lakuin sebagai laki-laki.
Itu aja, gua nggak suka nelpon Lu. Rasanya Lu jauh banget.

Nasi Pecel Pesanan Adik

"Adik, Bangun! Ini kubawakan nasi pecel. Kamu lapar 'kan?". Ia coba membangunkan adiknya yang baru mati karena makan lima belas ekor kecoa.

Ditulis Dalam Rangka Mengikuti Kompetisi Fiksi Mini yang Diadakan oleh mbak Wi3nda

Seumpama Prosa. Kali ini untuk Tanah

Seumpama prosa yang kali ini tentang tanah.
Seperti dia yang setiap detak jadi pijak.
Seperti dia yang setiap pagi jadi penopang.
Seumpama prosa yang kali ini untuk tanah.
Namun di atasnya senyuman hanya terlontar pada pesona awan pagi dan mencampakkan kesetiaannya.
Melupakan keikhlasannya.
Mungkin sesekali pandangi butirannya lalu tersenyum untuk setiap langkah di atasnya.
Kali ini prosa dan senyuman itu untuk tanah.