Terang Bulan Keju (Bag 1)

Beberapa hal pagi itu terjadi tanpa perlu kita tanya kenapa. Kenapa angin berhembus dari arah tenggara, kenapa embun jatuh dari pucuk rumput membasahi tanah, dan kenapa pagi itu aku ketemu dia lalu jatuh cinta - begitu saja.

Seandainya tadi pagi sikat gigiku tidak terjatuh ke lantai kamar mandi, aku tidak perlu jalan ke kios dekat rumah untuk untuk membeli sikat gigi yang baru. Menjadikan aku terlambat mandi, menjadikan aku terlambat berangkat ke kampus.

Seandainya tadi pagi aku tidak terlambat ke kampus, aku tidak akan kena macet di jalan. Menjadikan aku memutar mencari jalan alternatif agar lebih cepat sampai.

Seandainya tadi aku tidak usah melewati jalan kecil yang penuh batu-batuan kecil itu, ban motorku tidak usah bocor dan aku tidak usah mencari bengkel tambal ban.

Seandainya tadi aku tidak perlu menunggu ban motorku ditambal, aku tidak akan kena hujan yang datang tanpa diundang. Menjadikan aku memutuskan berteduh di halte kampus.

Seandainya tadi aku tidak perlu berteduh, atau aku tidak perlu menambal ban motorku, atau aku tidak perlu mencari jalan alternatif, atau aku tidak perlu terjebak macet, aku tidak akan bertemu perempuan berambut sebahu yang juga singgah berteduh di situ.

Seandainya tadi pagi sikat gigiku tidak terjatuh ke lantai, hari ini aku tidak perlu jatuh cinta.
*** 
Bersambung. Mudah-mudahan.

Tentang Seorang Anak Perempuan yang Tiap Malam Menunggu Angin Datang dari Laut

Kapal bapaknya tidak pernah pulang

Aku, Kau, dan Gerbong Kereta Api

Kamu duduklah denganku, di satu gerbong yang sempit
di dalamnya kita saling bercerita tentang tujuan-tujuan, atau lebih jauh
tentang pemberhentian

Kamu duduklah bersamaku di dekat jendela
di dekatnya kita melihat banyak tempat
pindah dalam sekejap

Kamu duduklah di sampingku
jika mengantuk tersenyumlah lalu sandarkan kepalamu
di pundakku
yang katamu, tempat paling lapang untuk merebahkan kenangan-kenangan

Kamu duduklah denganku
jika lelah diamlah sejenak kita
biar diisi panjang perjalanan bunyi besi dari kaki kereta

Atau duduklah kamu di depanku, atau di belakangku

Yang penting jangan di gerbong yang berbeda
tahu kita, perjalanan panjang dengan satu tujuan
belum tentu ada pertemuan,
apalagi salah satu kita telah turun duluan

(Cerpen) Doni Playboy Angkutan Kota

Sejak masih SMA, Doni dijuluki playboy angkot. Playboy angkutan kota. Meskipun dihadiahi ayahnya sebuah sepeda motor keluaran terbaru, Doni tetap kekeuh naik angkot ke sekolah. Katanya lebih gampang dan hemat bahan bakar, mengurangi pemanasan global katanya. Padahal kita semua tahu, Doni naik angkot karena menurut statistik yang Doni kumpulkan, hampir semua cewek cantik akan menaiki angkot dan ada kurang lebih 43% kemungkinan bertemu dengan salah satu cewek cantik itu - di dalam angkot. Kemungkinan itu akan bertambah besar, jika dia dua kali naik angkot dalam sehari. Pergi - lalu pulang.

Memasuki masa kuliah, Doni sengaja mencari kamar kontrakan yang tidak begitu dekat dengan kampus. Tujuannya apa lagi kalau bukan biar bisa naik angkot? Mengapa angkot? Doni punya alasan yang masuk akal: gampang membuka pembicaraan. Cukup dengan, "Halo, turun di mana?". Gampang kan? Doni pernah mencoba mencari cewek cantik di WC mall, tapi bingung sendiri untuk membuka pembicaraan. Suatu kali ia tanya ke cewek yang ia temui di depan WC mall. Doni bilang, "Sering ke sini?". Si cewek memandang Doni kebingungan, "Nggak juga sih, cuma kalau kebelet". Lalu Doni pulang dengan malu, juga dengan angkot. Di depannya duduk seorang cantik. "Turun di mana?". Itu Doni yang ngomong. "Di Blok M, dekat lapangan", sekarang giliran si cantik yang ngomong. "Oh blok M? Kenal Kang Harijo ga?". Tentu saja Harijo itu cuma nama karangan Doni. Begitulah, Doni playboy angkot. 16 orang mantan dan 1 orang pacarnya yang sekarang semua ketemu di angkot. Beberapa di antaranya ketemu di bus kota.

Doni playboy angkot. Cowok yang romantis dan oportunis. Katanya, apa yang lebih romantis daripada bertemu di perjalanan, ibaratnya menyatukan tujuan. Cih, jijik tapi boleh juga. Doni, Selalu dengan jurus yang sama dan selalu berhasil. Hanya satu kali triknya gagal: tadi pagi. Yaitu di perjalanan dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar menuju Bandara Djuanda Surabaya.

Malam Minggu ke-31

Mentang-mentang rumah baru, Reza tidak pernah lagi ngapel ke rumah. Jangankan setiap malam Minggu, sekalipun ia tidak pernah lagi main ke rumahku.

Sekarang, setiap malam Minggu aku punya kebiasaan baru. Aku akan menyembunyikan sandalku ke dalam rumah, mematikan lampur kamar, lalu pura-pura tidak ada di rumah. Tidak mau aku berpapasan dengan tetangga yang biasanya berduaan di ruang tamu - makan malam bersama atau sekedar ngeteh bersama. Apa saja, yang penting bersama. Mentang-mentang tinggal sekompleks!

Ajakan teman-teman untuk jalan-jalan ke mall, ke bioskop, atau ke tempat keramaian lain selalu kutolak. Pertama, aku tidak selalu suka jalan-jalan. Ke dua, aku takut jika sedang keluar, Reza datang ke rumah.

Begitu seterusnya, sampai malam Minggu ke 28.

"Tidak malam Mingguan?", kata Mira, kakakku sambil berjalan masuk ke kamarku setelah pacarnya pulang. Waktu itu kuingat jam menunjukkan pukul setengah sepuluh. Belum terlalu malam. Kalaupun menurutmu itu sudah terlalu malam untuk pulang, sepertinya Mira tidak terlalu khawatir. Toh rumah pacarnya juga cuma beberapa kilometer. Beberapa menit saja, handphone Mira akan berbunyi. 1 pesan diterima. "Aku sudah sampai rumah". Dari pacarnya.

Mira perlahan menarik selimut yang sengaja kubuat menutupi seluruh tubuhku. Dari balik selimut aku berusaha melawan sehingga jadilah kami bermain tarik tambang mini dan aku menang. Selain sedih, aku malu karena malam itu aku berdandan. Lipstik berwarna merah muda yang sudah kuusap di bibirku sebanyak 28 minggu.

Malam Minggu ke 30.

"Pacarku memang dekat, lima langkah dari rumah".

Aku ingat waktu Reza masih tinggal di rumahnya yang lama. Tidak pernah absen ia sekalipun setiap malam Minggu. Selalu tepat jam tujuh suara motornya akan terdengar dan aku sudah terbiasa menebaknya. Aku akan menunggunya di depan pintu.

Bukan di dalam kamar. Seperti yang sudah aku lakukan selama 30 malam Minggu.

Long Distance Relationship? Duh!

Malam Minggu ke 31.
"Tak ada malam Mingguan. Malam apapun sama"

Malam itu, aku sudah tidak bisa menahan rindu. Sembunyi-sembunyi kuambil sekop dari gudang. Kupindahkan Reza dari kuburnya lalu kutanam di halaman. Tepat lima langkah dari jendela kamarku.