Pun
Hidungnya berdarah
Hatinya lebih parah
Pun
Lidahnya kelu
Hatinya pilu
Pun
Jemarinya menganga
Langkahnya luka
Pun
Bibirnya mengaduh
Perutnya gaduh
Pun
Matanya bisu
Membiru
Pun
Isterinya di jalan
Menjual badan
Pun
Nyawanya satu
Jiwanya batu
Pun
Masih hidup
Dilupakan
(Puisi) yang Poligami
1. Berpoligami, modalnya indomie
2. Berberpoligami, modalnya puisi
3. Berpoligami, modalnya dua isteri
4. Berpoligami, nanti jika sudah jadi suami
5. Berpoligami, anaknya banyak nanti
6. Berpoligami, jangan dimaki-maki
7. Berpoligami, nikmatnya bertubi-tubi
8. Berpoligami, tapi resiko tanggung sendiri
2. Berberpoligami, modalnya puisi
3. Berpoligami, modalnya dua isteri
4. Berpoligami, nanti jika sudah jadi suami
5. Berpoligami, anaknya banyak nanti
6. Berpoligami, jangan dimaki-maki
7. Berpoligami, nikmatnya bertubi-tubi
8. Berpoligami, tapi resiko tanggung sendiri
Puisi dari Dua Kilogram Rindu
Ini puisi yang terbuat dari dua kilogram rindu.
Jangan kau angkat. Nanti tanganmu luka.
Biar aku saja.
Toh ini rinduku. Bukan rindumu.
Ini puisi yang terbuat dari dua kilogram rindu.
Jangan kau tarik. Nanti tanganmu luka.
Biar aku saja.
Toh ini rinduku. Padamu juga.
Ini puisi yang terbuat dari dua kilogram rindu.
Jangan kau ambil.
Ini rinduku saja.
Kalau kau ambil.
Bagaimana aku merindu?
Jangan kau angkat. Nanti tanganmu luka.
Biar aku saja.
Toh ini rinduku. Bukan rindumu.
Ini puisi yang terbuat dari dua kilogram rindu.
Jangan kau tarik. Nanti tanganmu luka.
Biar aku saja.
Toh ini rinduku. Padamu juga.
Ini puisi yang terbuat dari dua kilogram rindu.
Jangan kau ambil.
Ini rinduku saja.
Kalau kau ambil.
Bagaimana aku merindu?
Mendengar Warna Pelangi. Kau Bisa?
Kawan, pernahkah kau
mendengar warna? Tahukah kau bagaimana bunyi merah yang berani?
Bagaimana suara hitam yang dalam? Bisakah kau mendengarnya? Bukan sekali
lagi memandangnya.
Seandainya warna bisa bersuara, mungkin merah yang memegang nada awal sebagaimana dia yang berada di bagian paling atas pelangi. Mungkin merah, bisa dibaca "DO"
Mungkin begitu pula cara mendengar pelangi. DO-RE-MI pastilah berarti merah, kuning, hijau.
Seandainya warna bisa bersuara, mungkin merah yang memegang nada awal sebagaimana dia yang berada di bagian paling atas pelangi. Mungkin merah, bisa dibaca "DO"
Mungkin begitu pula cara mendengar pelangi. DO-RE-MI pastilah berarti merah, kuning, hijau.
Rindu yang Bicara Sendiri
Ini, kubakar kembang api dengan air mata yang menjadikannya pelangi. Percikannya mengingatkan pada pantai yang kita garis dengan langkah-langkah kecil dan mimpi yang menjadikannya cinta. Ini, kulukis kembali gambar-gambar yang telah lama itu dengan garis sketsa baru yang menjadikannya riuh.
Subscribe to:
Posts (Atom)