Hujan yang Turun dari Bulan

Terang sinarnya terang. Bulan yang sedang senang
Sinar memantul di atas percikan yang berkumpul di tengah kota kecil
Kota kecil yang tenggelam
Oleh air dalam kelam, yang Kelam dalam air

Yang dibawanya entah. Dari mana mau ke mana
Hujan yang jengah. Dia turun dari bulan
Dalam hujan yang jengah pun ada kabut
Kabut dari bulan yang kelam
Kelam dalam kabut memenuhi kota

Tenggelam oleh hujan yang turun dari bulan

Cinta itu Tidak Di Dalam Hati

Jangan lagi sekali cari cinta ke dalam hati
Karena dia tidak di dalam hati
Senyumlah pada gambar wajahku
Karena cinta mu memang ada padaku

Bulan. Kawahnya dalam-dalam

Bulan yang legam, kawahnya dalam-dalam
Sinarnya melegam, tertutup awan hitam
Puisi seorang perindu pada bulan yang legam
Karena bulan pecinta bumi paling dalam

Menarilah. Dengan Menari Kamu Mengerti Musik

Menarilah. Dengan menari kamu mengerti musik.
Bernyanyilah. Dengan bernyanyi kamu mengerti lagu.
Bernyanyilah. Dengan bernyanyi kamu belajar mengeja sastra.
Lalu Menarilah, dengan menari kamu belajar menyatu bahasa irama.

Bernyanyilah. Menarilah.
Biar jiwa dan ragamu merdeka

Sampaikan Puisiku Pada Ibuku

Kemarin dia bertamu ke rumah ku. Seperti biasa dia mengenakan jubah hitam. Kuduga dia cuma punya satu baju
"Silahkan masuk. Ada apa gerangan?" Sambil mempersilahkan aku bertanya.
"Waktumu sudah tiba" Jawabnya singkat
"Kau yakin?" Aku hendak memastikan
"Malaikat tak pernah salah" Tanggapnya dingin
"Boleh aku minta tambahan waktu?" Aku meminta
"Kurasa tidak" Dia menimpali
"Kalau bertanya boleh tidak?"
"Boleh"
"Kapan kau akan menemui ibuku?" Nada bicaraku meninggi
"Tak usah Kau tahu. 'Toh di sana Kalian akan bertemu kembali" Dia meremeh
"Baiklah. Aku ikut denganmu. Satu permintaan terakhir?" Aku meminta lagi. Kali ini nada bicaraku rendah
"Ini hadiah terakhir. Apa itu?" Kurasa dia penasaran juga
"Tolong sampaikan pada ibuku. Sampaikan sebelum dia tidur, ada puisi di bawah bantalnya."

Selamat hari ibu, semuanya