Catatan Seratus Dua Belas

Rencananya, aku ingin menuliskan surat cinta yang kurangkai dengan tulisan indah yang bersambung-sambung, kertas yang berwarna merah muda, dan semprotan parfum beraroma citrus yang segar.
Mula-mula Aku kumpulkan keberanian, sedetik kemudian ku raih bolpoin yang sudah cukup lama tergeletak di sebelah tangan kananku. Kuberanikan menuliskannya dengan segala macam kata dan paragraf bujuk rayu yang kuhapal mati dari sebuah buku kecil berjudul, "125 Rayuan Singkat".

Demi layaknya sebuah surat cinta yang sempurna, surat cinta ku ini kuulang berkali-kali. Dan layaknya orang yang sedang jatuh cinta, aku tidak juga letih, apalagi bermaksud berhenti. Jemariku menari lincah, sesekali jeda, lalu menari lagi. Meninggalkan jejak huruf-huruf yang sambung-menyambung membentuk paragraf yang sastrawi. Entah berapa banyak kata yang kurangkai dengan isi ke sana kemari. Sebagai penutup yang sederhana, jari dan hatiku mantap. Keduanya sepakat menulis satu kalimat penutup sederhana yang mampu mewakili surat yang hendak kusampaikan: Aku cinta padamu.

Setelah selesai dan kurasakan isinya sudah mantap, kuraih sebotol parfum beraroma citrus, aroma yang entah ku tahu dari mana ia sangat menyukainya. Kusemprotkan di sudut kertas berisikan pernyataanku yang paling berani. Kumasukkan perlahan ke dalam amplop putih bersih. Di depannya kutulis, "Catatan seratus dua belas"

Besoknya, dua November. Selepas kuliah ku beranikan diri mendekati dia yang seperti biasa duduk di bangku koridor, kudekati dengan harap-harap cemas dan detak jantung yang cepat dan keras. Tanpa berkata mata kami saling bertemu. Dia  menatapku dalam mencoba menerobos jauh ke dalam pikiranku, menebak-nebak apa yang terjadi selanjutnya. Kuserahkan sepucuk surat cinta beraroma citrus, sambil menatapku dalam ia menyambutnya, dengan senyum yang perlahan terlukis.
Hari ini, dua November. Bahkan sebelum ia membaca surat cinta beraroma citrus, aku sudah tahu jawabannya. Pandangan seperti itu hanya punya satu makna, Kami saling mencintai.

Di Atas Awan Kukecup Bibirnya

Di atas awan, ku kecup dia tepat di bibir. Kutinggalkan jejak di sana. Manis.
Di atas awan, kupeluk tubuhnya. Romantis.
Di atas awan, aku ucap janji setia. Bodoh.

Kita Pernah Tidak Saling Merindu

Lewat satu musim hujan, kita tidak pernah saling mengharapkan.
Lewat satu kemarau, kita tidak pernah saling merindu.

Sekarang kita merindu, karena dulu kita belum saling jatuh hati.

Bangku Taman, di Tengah-tengah Elegi Taman

Malam ke dua puluh satu September
Tidak mendung. Tidak juga sakit.
Hanya murung.

Di tengah-tengah elegi insan-insan di taman.
Bangku taman itu rapuh.
Di tengah-tengah elegi kota.
Bangku taman itu tidak lagi bisa menopang.

Malam ke dua puluh dua September.
Di tengah-tengah ceria insan-insan di taman.
Bangku taman itu rubuh.

Idul Fitri di Bawah Bulan September: Tidak Ada Ketupat

"Tidak ada ketupat dan opor ayam tahun ini, Nak!" Kata Emak
"Yang penting masih ada keluarga yang lengkap, Mak" Kata Anak
"Iya, Nak. Kita beruntung keluarga kita masih lengkap. Ada kamu, juga ada Emak" Kata Emak