Dengan lenganmu yang mengikat pinggangku. Aku tersenyum.
Seperti sebaris pelangi berwarna pudar di atas.
Di bawah pelangi dua dekade. Di atas alang-alang.
Aku berdialog dengan Tuhan.
Dengan cinta Dia bilang, "Pelangi ini untukmu, Tyar. Di ulangtahun mu yang ke dua puluh"
Tepat
"Nikahi Aku!" Pintanya tegas.
Tepat di saat aku ingin berkata, "Aku tidak pernah mencintaimu."
Tepat di saat aku ingin berkata, "Aku tidak pernah mencintaimu."
Datanglah di Senja, Perempuanku.
Ingin kupamerkan senyummu pada senja. Biar senja tahu siapa yang lebih indah. Biar senja jadi cemburu.
Datanglah di senja, Perempuanku.
Datanglah di senja, Perempuanku.
Gua Nggak Suka Nelpon (atau ditelpon) sama Lu
Lu mungkin marah waktu baca ini. Iya, gua malas semalas-malasnya kalau harus dengar suara cempreng Lu di telpon. Gua gak suka. Gua cuman gak suka.
Gua nggak suka denger cerita Lu. Gua nggak suka denger curhatan lu. Gua nggak suka hampir setiap kata yang Lu kasih ke gua.
Gua juga nggak suka denger tawa Lu lewat Nokia 6030 Gua, karena gua cuman bisa bayangin muka Lu yang lagi senyum tanpa bisa ngeliat sepotong senyum Lu yang mustinya jadi sepotong senyuman yang selalu gua suka.
Gua juga nggak suka denger Lu nangis di telpon, sayang gua nggak bisa ngelap air mata Lu yang harusnya bisa Gua lakuin sebagai laki-laki.
Itu aja, gua nggak suka nelpon Lu. Rasanya Lu jauh banget.
Gua nggak suka denger cerita Lu. Gua nggak suka denger curhatan lu. Gua nggak suka hampir setiap kata yang Lu kasih ke gua.
Gua juga nggak suka denger tawa Lu lewat Nokia 6030 Gua, karena gua cuman bisa bayangin muka Lu yang lagi senyum tanpa bisa ngeliat sepotong senyum Lu yang mustinya jadi sepotong senyuman yang selalu gua suka.
Gua juga nggak suka denger Lu nangis di telpon, sayang gua nggak bisa ngelap air mata Lu yang harusnya bisa Gua lakuin sebagai laki-laki.
Itu aja, gua nggak suka nelpon Lu. Rasanya Lu jauh banget.
Subscribe to:
Posts (Atom)