Pernah ada masa depan di sini. Di pergelangan tangan. Letaknya di antara nadi di setiap denyut harapan.
Pernah juga ada masa lalu di sini. Di pergelangan tangan. Melewati tubuh kembali jantung. Ke tempat yang ia sebut rumah.
Pernah ada masa lalu bagi mereka yang mengenang.
Pernah juga ada masa depan bagi mereka yang percaya.
Bersama mereka yang tidak melupakan.
Berdenyut bagi mereka yang masih percaya.
Bersama mereka yang masih punya mimpi.
Yang tidak lupa pada rumah.
Bagian Empat: Kutemukan Bintang Paling Terang
Telah tersimpan baik-baik mimpi itu di sini, bukan karena aku sudah tidak mempercayainya lagi. Tapi untuk aku buka suatu hari nanti. Sayapku yang sebelah kiri pun telah tidak ada lagi, Tidak lagi bisa merekah seperti dulu. Harusnya aku sadar, dulu mereka masih rapuh dan aku seharusnya tidak memaksakan mereka terlalu jauh. Hingga tadi pagi Aku kubur sayap itu.
Dan sayap yang sebelah kanan, sebentar lagi juga merontok menyusul. Tapi bukan berarti ia jengah. Ia rontok, supaya ia bisa lahir kembali suatu hari nanti dan siap terbang lebih tinggi lagi. Aku juga kubur sayap itu. Juga bintang paling terang yang masih setia menjanjikan senyuman. Ia mengambang. Ia masih tersenyum. Ia mulai menyadari ia hanya mimpi mustahil seorang yang sebenarnya sama sekali tidak pernah memiliki sayap. Tapi ia masih percaya, ia ada. Ia ada tapi bukan dalam bingkai realitas. Ia ada dalam dimensi bernama mimpi. Dan mimpi membiarkannya tetap hidup.
Sedangkan aku tetap di sini. Di beranda tempat aku terbang untuk terakhir kali. Memandang bintang itu dari jauh, meskipun terpisah langit bernama dimensi. Aku masih bisa melihatnya, kalau aku menutup mata. Itulah satu-satunya cara agar aku bisa melihatnya. Atau sekedar mengingat sinarnya.
Aku masih ingat tentang sungai bintang cemerlang yang kuseberangi, tentang hujan bintang jatuh yang aku seluncuri, tentang selimut kabut cahaya venus memelukku, tentang galaksi, tentang jalur keluar Bima Sakti hingga berakhir pada senyuman setitik bintang paling terang. Semuanya masih terekam, dan bisa aku percayai sendiri.
Mungkin kini aku rapuh tanpa sayap. Tapi selama kami masih saling percaya, sayap itu akan tumbuh kembali. Dan ketika saat itu sudah tiba, kami tidak akan menanti lebih lama. Aku akan kembali membelah dimensi. Tinggi, dan tidak akan jatuh lagi. Meninggalkan dunia dan realitas. Aku tidak ingin kembali.
Dan sayap yang sebelah kanan, sebentar lagi juga merontok menyusul. Tapi bukan berarti ia jengah. Ia rontok, supaya ia bisa lahir kembali suatu hari nanti dan siap terbang lebih tinggi lagi. Aku juga kubur sayap itu. Juga bintang paling terang yang masih setia menjanjikan senyuman. Ia mengambang. Ia masih tersenyum. Ia mulai menyadari ia hanya mimpi mustahil seorang yang sebenarnya sama sekali tidak pernah memiliki sayap. Tapi ia masih percaya, ia ada. Ia ada tapi bukan dalam bingkai realitas. Ia ada dalam dimensi bernama mimpi. Dan mimpi membiarkannya tetap hidup.
Sedangkan aku tetap di sini. Di beranda tempat aku terbang untuk terakhir kali. Memandang bintang itu dari jauh, meskipun terpisah langit bernama dimensi. Aku masih bisa melihatnya, kalau aku menutup mata. Itulah satu-satunya cara agar aku bisa melihatnya. Atau sekedar mengingat sinarnya.
Aku masih ingat tentang sungai bintang cemerlang yang kuseberangi, tentang hujan bintang jatuh yang aku seluncuri, tentang selimut kabut cahaya venus memelukku, tentang galaksi, tentang jalur keluar Bima Sakti hingga berakhir pada senyuman setitik bintang paling terang. Semuanya masih terekam, dan bisa aku percayai sendiri.
Mungkin kini aku rapuh tanpa sayap. Tapi selama kami masih saling percaya, sayap itu akan tumbuh kembali. Dan ketika saat itu sudah tiba, kami tidak akan menanti lebih lama. Aku akan kembali membelah dimensi. Tinggi, dan tidak akan jatuh lagi. Meninggalkan dunia dan realitas. Aku tidak ingin kembali.
Sayangnya Aku Tidak Bisa Mendengar Rintihan Pelangi
Sayangnya Aku tak bisa mendengar rintihan pelangi. Aku bahkan tidak tahu kalau pelangi juga bisa merintih. Aku pikir dia adalah hiasan langit paling setia dan tidak pernah mengeluh. Tapi tidak apa pikirku. Lagipula hanya pelangi. Terlalu jauh untuk aku seka air matanya.
Sayangnya Aku tidak bisa melihat air mata pelangi. Aku bahkan tidak tahu kalau pelangi bisa menangis. Kalau ia punya hati, aku pikir hatinya adalah hati paling lembut lebih lembut dari hati awan-awan yang menemaninya. Lagipula air matanya terlalu kelabu untuk aku lihat dari tempat sekecil ini.
Tapi aku tahu pelangi bisa rindu, entah rindu pada siapa. Tapi aku juga tahu rindunya begitu dalam dan sungguhan.
Memang sayang aku tidak bisa mendengar rintihan dan tidak bisa melihat airmatanya. Lagipula ia hanya pelangi. Tidak lebih, hingga akhirnya aku terjaga. Kamu juga adalah pelangi.
Sayangnya Aku tidak bisa melihat air mata pelangi. Aku bahkan tidak tahu kalau pelangi bisa menangis. Kalau ia punya hati, aku pikir hatinya adalah hati paling lembut lebih lembut dari hati awan-awan yang menemaninya. Lagipula air matanya terlalu kelabu untuk aku lihat dari tempat sekecil ini.
Tapi aku tahu pelangi bisa rindu, entah rindu pada siapa. Tapi aku juga tahu rindunya begitu dalam dan sungguhan.
Memang sayang aku tidak bisa mendengar rintihan dan tidak bisa melihat airmatanya. Lagipula ia hanya pelangi. Tidak lebih, hingga akhirnya aku terjaga. Kamu juga adalah pelangi.
Gambarkan Sekali Lagi Puisi yang Kemarin
Tuliskan sekali lagi puisi yang serupa. Puisi tentang cinta yang serupa, tapi kali ini dengan hitam atau dengan putih.
Jangan seperti puisi yang kemarin tertulis dengan abu-abu.
Gambarkan satu lagi lukisan yang serupa. Lukisan tentang dunia yang serupa, tapi gambar yang ini dengan warna merah Atau dengan ungu.
Tidak seperti kemarin yang tergambar dengan abu-abu.
Atau warnai saja puisi tentang cinta dan lukisan tentang dunia yang kemarin dengan hitam, dengan putih, dengan hijau, dengan kuning, dengan merah, atau dengan semua warna yang kau punya. Jangan abu-abu.
Kecuali jika abu-abu sudah tidak berati ragu.
Jangan seperti puisi yang kemarin tertulis dengan abu-abu.
Gambarkan satu lagi lukisan yang serupa. Lukisan tentang dunia yang serupa, tapi gambar yang ini dengan warna merah Atau dengan ungu.
Tidak seperti kemarin yang tergambar dengan abu-abu.
Atau warnai saja puisi tentang cinta dan lukisan tentang dunia yang kemarin dengan hitam, dengan putih, dengan hijau, dengan kuning, dengan merah, atau dengan semua warna yang kau punya. Jangan abu-abu.
Kecuali jika abu-abu sudah tidak berati ragu.
Bagian Empat: Elegi Patah Hati
Kemarin aku lihat hujan yang menetes dari matamu. Aku lihat hujan itu sedikit demi sedikit melukis ragu. Perlahan menghapus tawa yang kita lepas di bawah hujan kemarin sore.
Dari bibirmu yang kerap berkisah padaku. Kamu mulai berkata ragu. Aku dengar kau melukis hitam dan putihmu beranjak abu-abu. Di lukisan pertamamu, di saat pertama kamu mulai berucap ragu. Aku telah mencintaimu dengan sungguh-sungguh.
Dari bibirmu yang kerap berkisah padaku. Kamu mulai berkata ragu. Aku dengar kau melukis hitam dan putihmu beranjak abu-abu. Di lukisan pertamamu, di saat pertama kamu mulai berucap ragu. Aku telah mencintaimu dengan sungguh-sungguh.
Subscribe to:
Posts (Atom)