Gambarkan Sekali Lagi Puisi yang Kemarin

Tuliskan sekali lagi puisi yang serupa. Puisi tentang cinta yang serupa, tapi kali ini dengan hitam atau dengan putih.
Jangan seperti puisi yang kemarin tertulis dengan abu-abu.

Gambarkan satu lagi lukisan yang serupa. Lukisan tentang dunia yang serupa, tapi gambar yang ini dengan warna merah Atau dengan ungu.
Tidak seperti kemarin yang tergambar dengan abu-abu.

Atau warnai saja puisi tentang cinta dan lukisan tentang dunia yang kemarin dengan hitam, dengan putih, dengan hijau, dengan kuning, dengan merah, atau dengan semua warna yang kau punya. Jangan abu-abu.
Kecuali jika abu-abu sudah tidak berati ragu.

Bagian Empat: Elegi Patah Hati

Kemarin aku lihat hujan yang menetes dari matamu. Aku lihat hujan itu sedikit demi sedikit melukis ragu. Perlahan menghapus tawa yang kita lepas di bawah hujan kemarin sore.

Dari bibirmu yang kerap berkisah padaku. Kamu mulai berkata ragu. Aku dengar kau melukis hitam dan putihmu beranjak abu-abu. Di lukisan pertamamu, di saat pertama kamu mulai berucap ragu. Aku telah mencintaimu dengan sungguh-sungguh.

Ingatkan Aku Untuk Selalu

Ingatkan aku yang selalu lupa padamu. Ingatkan aku yang selalu lupa janjiku untukmu.
Untukmu yang selalu mencintaiku dan menghadirkan senyum untukku.
Ingatkan juga aku yang selalu lupa pada negeriku. Ingatkan aku yang selalu lupa untuk berbakti pada negeriku. Untuk negeriku yang memberiku puisi tentang padi, tebu, sawah, dan gunung.
Ingatkan aku yang selalu lupa pada penciptaku. Pada yang memberiku hidup. Untuk penciptaku yang menjanjikan surga. Cahaya. Senja. Juga Cinta.
Pada orangtuaku. Pada sahabatku. Pada mereka yang tidak akan jengah mengingatkanku.
Ingatkan juga untuk selalu ingat pada diriku. Ingatkan aku yang selalu mengkhianati hati kecilku.

Masih Tangan yang Sama

Ini masih tangan yang sama yang pernah membelai lembut rambutmu yang terurai.
Masih tangan yang sama yang dulu kau genggam dengan kedua tanganmu saat kau menyerah pada dingin.
Ini masih tangan yang sama yang pernah melambai pada parasmu.
Masih tangan yang sama yang pernah merangkul jiwamu.
Juga masih tangan yang sama yang pernah meredakan galaumu.

Pikirkan sekali lagi, semua belum berubah. Yang menulis untuk mu sekarang ini pun masih tangan yang sama.

Masih Setiakah Kau Menatapku?

Lihat ke atas sana, langit tak sedang biru dan awan tak sedang putih. Ini bumiku yang melegam termakan celaan zaman. Lihat ke atas sana langit termenung yang menunggu ajal yang berjanji akan datang hari ini.

Genggam erat tanah yang kupijak. Ini tanahku yang retak tergeser asma amarah. Tiap dua detik ia bergetar menari-narikan kita di atasnya.

Ini bumi yang semakin tua. Masih sudikah kau menatapnya?!
Langit dan tanah saling rindu ingin segera bersatu.