Bagian Empat: Elegi Patah Hati

Kemarin aku lihat hujan yang menetes dari matamu. Aku lihat hujan itu sedikit demi sedikit melukis ragu. Perlahan menghapus tawa yang kita lepas di bawah hujan kemarin sore.

Dari bibirmu yang kerap berkisah padaku. Kamu mulai berkata ragu. Aku dengar kau melukis hitam dan putihmu beranjak abu-abu. Di lukisan pertamamu, di saat pertama kamu mulai berucap ragu. Aku telah mencintaimu dengan sungguh-sungguh.

Ingatkan Aku Untuk Selalu

Ingatkan aku yang selalu lupa padamu. Ingatkan aku yang selalu lupa janjiku untukmu.
Untukmu yang selalu mencintaiku dan menghadirkan senyum untukku.
Ingatkan juga aku yang selalu lupa pada negeriku. Ingatkan aku yang selalu lupa untuk berbakti pada negeriku. Untuk negeriku yang memberiku puisi tentang padi, tebu, sawah, dan gunung.
Ingatkan aku yang selalu lupa pada penciptaku. Pada yang memberiku hidup. Untuk penciptaku yang menjanjikan surga. Cahaya. Senja. Juga Cinta.
Pada orangtuaku. Pada sahabatku. Pada mereka yang tidak akan jengah mengingatkanku.
Ingatkan juga untuk selalu ingat pada diriku. Ingatkan aku yang selalu mengkhianati hati kecilku.

Masih Tangan yang Sama

Ini masih tangan yang sama yang pernah membelai lembut rambutmu yang terurai.
Masih tangan yang sama yang dulu kau genggam dengan kedua tanganmu saat kau menyerah pada dingin.
Ini masih tangan yang sama yang pernah melambai pada parasmu.
Masih tangan yang sama yang pernah merangkul jiwamu.
Juga masih tangan yang sama yang pernah meredakan galaumu.

Pikirkan sekali lagi, semua belum berubah. Yang menulis untuk mu sekarang ini pun masih tangan yang sama.

Masih Setiakah Kau Menatapku?

Lihat ke atas sana, langit tak sedang biru dan awan tak sedang putih. Ini bumiku yang melegam termakan celaan zaman. Lihat ke atas sana langit termenung yang menunggu ajal yang berjanji akan datang hari ini.

Genggam erat tanah yang kupijak. Ini tanahku yang retak tergeser asma amarah. Tiap dua detik ia bergetar menari-narikan kita di atasnya.

Ini bumi yang semakin tua. Masih sudikah kau menatapnya?!
Langit dan tanah saling rindu ingin segera bersatu.

Bagian Tiga: Elegi Patah Hati

Memang kita masih terlalu jauh, tapi tidak ingin kalau kita semakin jauh. Entah kenapa dinding itu semakin tebal dan tinggi, semakin sulit buat kupanjati. Laut itu semakin luas semakin dalam untuk kuseberangi.
Hujan masih terlalu deras membuat pelangi jengah menanti. Sedangkan cahayaku semakin redup saat warnamu semakin memesona.

Mungkin Kau masih langit dan aku masih bumi. Kita masih belum bisa jadi awan dan hujan. Juga bukan Rumput dan embun. Kita belum bisa menyatu seperti lumut dan bebatuan. Kau masih berjalan mendekati Desember dan Aku masih saja diam di bulan Juli, entah ingin menyusulmu ke Agustus atau justru ku nanti saja di bulan Februari.

Kau masih kemarau dan aku belum beranjak dari musim dingin. Kau masih cerah dan aku masih saja gelap. Entahlah, tapi lukaku bernanah.

Dengar, Musikku semakin semu dan Lirikmu semakin kabur. Musik yang kumainkan tidak bisa mengiringi puisi yang kau nyanyikan.

Mungkin aku hanya terlalu melankolis.